AS: Game Adalah Masa Depan Pendidikan

15 April 2015

Hadirnya video game bak pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini mampu mendatangkan hiburan modern. Namun di sisi lain, game dikhawatirkan membawa dampak negatif terhadap masa depan para pelajar. Kendati demikian, pemerintah Amerika Serikat justru melihat hal ini sebagai peluang tersendiri. Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Pendidikan melihat sebuah kesempatan dimana ingin mengubah pendidikan dengan cara yang relevan dengan para pelajar di masa kini.

Dari hasil riset yang dilakukan oleh Universitas Indiana ditemukan bahwa banyak sekali pelajar di era sekarang yang menghabiskan waktunya untuk bermain game seperti mereka datang ke sekolah. "Ketika Anda melihat kehidupan para pelajar, banyak dari para pelajar itu yang menghabiskan waktu sekitar 10.000 jam bermain video game. Dengan kata lain waktu itu sama dengan waktu yang mereka habiskan selama bersekolah," ujar Erik Martin, orang yang bertanggung jawab di Departemen Pendidikan Amerika Serikat divisi Pembelajaran Game. "Bayangkan jika dari waktu yang dihabiskan dari dua kegiatan tadi bisa dibuat keterlibatan atau hal yang lebih relevan," tambahnya. Martin sendiri dalam beberapa waktu ke depan akan menggelar sebuah konferensi game untuk pembelajaran di kota New York, dimana konferensi yang untuk pertama kalinya digelar itu akan membahas soal masa depan dari game dan sekolah. Konferensi yang mempertemukan pakar edukasi, pelajar, guru, publisher, dan developer game itu digelar dengan harapan dapat meruntuhkan tembok yang menghalangi antara kepentingan para developer game dengan kebutuhan game edukasi.

Salah satu publisher game raksasa dunia, Ubisoft dijadwalkan hadir dalam konferensi tersebut. Pubilsher asal Prancis itu akan mempresentasikan game Assassin's Creed, dimana game itu memiliki relevansi dengan kisah-kisah sejarah dunia. "Selama bertahun-tahun kami mendengar universitas di seluruh Amerika Serikat menggunakan game untuk terlibat dengan pelajarnya," ujar Ubisoft Public Relations Director, Michael Beadle dikutip dari Polygon, Rabu (15/4/2015). "Mereka akan membandingkan sejarah dalam game dengan sejarah yang mereka pelajari di kelas untuk menunjukkan kepada pelajar seperti apa tampilan visual periode sejarah itu," pungkasnya.

 

sumber: detiknet